Usia Ma’ruf Boleh Tua, Pemikiran dan Semangatnya Tetap Muda

Usia Ma’ruf Boleh Tua, Pemikiran dan Semangatnya Tetap Muda
1,129 Kali Di Baca

Mengejutkan. Itulah kesimpulan dari debat cawapres kali ini. KH Ma’ruf Amin di luar ekspektasi dan mungkin di luar perkiraan banyak orang. Begitu tenang, begitu jelas, dan sangat-sangat tepat, terukur, dan mudah dipahami. Tidak ada pertanyaan yang tak mampu dijawab dengan baik. Pemilihan katanya pun begitu variatif.

Sebaliknya, Sandiaga tetap begitu. Sebut nama orang yang entah ada atau tidak kemudian jualan Oke Oce. Tak ada kebaruan, tak ada solusi.

Kiai Ma’ruf begitu fasih menjelaskan KIP Kuliah, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Pra Kerja. Dan yang membuat merinding, Ma’ruf dengan percaya diri mengatakan “la takhof wa la tahzan, anak-anakku jangan takut bermimpi. Negara hadir untuk memenuhi seluruh kebutuhan kalian.”

Kiai Ma’ruf juga dengan tenang menjelaskan permasalahan stunting. Bahwa penanganannya harus dilakukan sejak anak dalam kandungan, bukan setelah lahir, apalagi setelah usia 2 tahun.

Dari sisi kedokteran dan fiqh, bisa beliau jelaskan. Bertemu di satu solusi yang sama. Ini bukan sekedar membuat yakin bahwa Kiai paham betul cara menangani stunting di Indonesia, tapi juga menyadarkan bahwa teori kedokteran dan syariah bisa sejalan.

Poin ini sangat penting. Selama ini, di kalangan muslim fanatik, beberapa ada yang meragukan ilmu kedokteran. Sekali lagi, Kiai berhasil menyadarkan kita semua bahwa ilmu kedokteran dan fiqh pada dasarnya sama dan tidak saling bertentangan.

Begitupun ketika menjelaskan infrastruktur. Kiai Maruf dengan sangat yakin membahas pembangunan Palapa Ring.

Dunia usaha dan dunia industri, opera house, infrastruktur langit, decacorn, cyber university, dan basic capital and maximize utility. Semua adalah istilah-istilah modern dan kekinian, yang berhasil disampaikan secara detail
Bahkan soal birokrasi, tentang instrumen pemantau anggaran dari pusat ke daerah, Kiai Maruf Amin bisa menjelaskan dengan baik.

Dengan Neraca Pendidikan Daerah serta Data Pokok Pendidikan.
Bagian yang paling menarik, sangat telak, adalah saat Sandiaga dengan percaya dirinya mengeluarkan KTP, untuk menggantikan kartu-kartu sakti yang ditawarkan oleh Jokowi-Amin. Jawaban Kiai benar-benar di luar perkiraan, jauh lebih modern melampaui ide Sandi.

“KTP belum ready digunakan. Karenanya kita pakai kartu per sektor supaya lebih mudah. Kalau masyarakat sudah siap, pakai handphone saja nantinya,” jawab Kiai Maruf santai. Jawaban ini, jika diibaratkan permainan sepak bola, seperti tendangan jarak jauh yang menghujam tanpa ampun ke gawang lawan. Sangat fantastis.

Bahasan-bahasan tersebut pada akhirnya membuat kita sadar. Kiai Maruf bukanlah kiai kolot, kaku, ketinggalan zaman, ataupun tak paham teknologi.

Justru, di usianya yang sudah tidak muda, Kiai Maruf jauh lebih paham soal teknologi dibanding Sandiaga. Kiai sangat menguasai permasalahan hingga teknis dan solusi yang akan ditawarkan. Begitu detail. Bahkan mampu menggambarkan visi Indonesia maju 10 tahun ke depan.

Sebagai yang jauh lebih muda dari Kiai, sebagian kita sempat meragukan kapasitasnya dalam dunia digital dan berpikir ia hanya mengetahui agama. Faktanya, Kiai berpikir jauh ke depan. Memahami segala hal permasalahan di Indonesia, baik masalah ibu-ibu hingga anak muda.

Sementara Sandi, yang tampil dengan jas mewahnya, terlihat jauh lebih muda tapi nyatanya tak paham apa-apa. Pada akhirnya, terjawab sudah mengapa Presiden Jokowi memilih Kiai Maruf Amin sebagai wakilnya hingga 2024. Bukan sekedar mengamankan suara NU. Bukan sebatas menjadi tameng serangan kelompok radikal. Lebih dari itu, Maruf Amin memang sangat pantas untuk menjadi wapres.