Surat Suara Tercoblos Di Malaysia Ternyata Salah Satu Modus Kecurangan Pilpres 2014 oleh Prabowo


398 Kali Di Baca

Video suara tercoblos di Malaysia seolah mendapat momentum baru bagi pendukung Prabowo-Sandi untuk memperbesar propaganda tentang kecurangan yang telah dimulai dengan hoax tentang 7 kontainer surat suara lalu terbukti kebohongan semata, adanya sistem komputer KPU yang disetting memenangkan paslon no urut 01 Jokowi-Ma’ruf yang ternyata direncanakan di rumah timses Prabowo-Sandi sendiri.

Berikutnya hoax tentang kemenangan paslon 02 di berbagai daerah pemilihan di luar negeri padahal pencoblosan belum dilakukan. Polri pun bergerak cepat dan mengkonfirmasi beredarnya video surat suara tercoblos sebelum waktu pemilihan kepada senior liaison officer (SLO)-nya di Selangor, Malaysia. Dalam video tersebut, terlihat bagian yang tercoblos ada pada gambar capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

“Kepolisian sudah mengkonfirmasi kepada Senior Liaison Officer Polri di KBRI Kuala Lumpur, langsung mengecek ke SLO di Selangor, apakah video yang viral tersebut benar atau tidak,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

Dedi menuturkan SLO-nya di Malaysia juga berkoordinasi dengan kelompok kerja (pokja) pengamanan pemilu RI di Malaysia. Dedi mengimbau masyarakat tidak terprovokasi video tersebut sebelum pihak yang berwenang, yaitu KPU dan Bawaslu, memberi pernyataan resmi terkait video itu.

“Masyarakat diimbau tidak mudah terprovokasi terhadap video tersebut sebelum pihak-pihak yang berwenang, dalam hal ini KPU, Bawaslu merilis hasil penyelidikan atau pemeriksaan resmi,” ucap Dedi.

Surat suara yang sengaja dicoblos berada dalam pengawasan PPLN, Panwas Luar Negeri dan pihak keamanan di Kedubes sehingga menjadi sebuah keganjilan jika ditemukan di sebuah ruko kosong di luar kedutaan Indonesia.

“Ada keganjilan dalam video tersebut, yaitu amplop yang ada belum terkirim tetapi sudah dicoblos. Logikanya jika amplop sampai ke tangan penerima tentu akan muncul persoalan,” kata Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya dihubungi antara.

Ia menjelaskan, pemungutan suara di Malaysia menggunakan tiga metode pemberian suara, yakni pemberian suara di TPS, pemberian suara dengan Kotak Suara Keliling dan pemberian suara melalui amplop.

“Video yang viral soal suara yang tercoblos jika diamati sepintas adalah surat suara yang akan dikirim dengan pos,” ucap Willy.

Keganjilan lainnya adalah bagaimana mungkin surat suara dalam pengawasan PPLN, Panwas Luar Negeri, dan pihak keamanan di Kedubes bisa keluar dalam jumlah cukup besar ke sebuah ruko kosong ke wilayah yuridiksi di luar kedutaan Indonesia.

Keganjilan berikutnya, lanjut Willy, adalah ruko kosong itu ditemukan seseorang lalu diviralkan.

“Maka sangat mungkin kejadian di Malaysia ini sarat dengan kepentingan politik untuk mendelegitimasi Pemilu dan pihak penyelenggara Pemilu oleh pihak-pihak yang takut kalah dengan menyebut bahwa Pemilu curang dan sebagainya,” tegasnya.

Fakta itu, tambah dia, beriringan dengan fakta di berbagai survei menjelang 17 April kubu Prabowo-Sandi telah kalah oleh Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kejadian tersebut sarat dengan kepentingan politik untuk mendelegitimasi Pemilu dan pihak penyelenggara oleh pihak-pihak yang tak siap kalah dengan modus operasi hitam dan sangat kotor. Masyarakat Indonesia tentu masih ingat kasus Ratna Sarumpaet yang diviralkan kubu Prabowo-Sandi sebagai orang teraniaya dan dizalimi.

Sejarah Pilpres 2014 membuktikan kubu Prabowo di Malaysia pernah melakukan kecurangan dengan modus penggelembungan suara memanfaatkan pengiriman surat suara via pos dan drop box. Seorang saksi mengatakan ribuan surat suara dikirimkan ke kantor sejumlah partai politik cabang Kuala Lumpur. Jumlahnya bervariasi, antara 2.500 dan 3.000. Seorang pengurus partai pendukung Prabowo-Hatta waktu itu mengatakan ribuan surat suara tersebut akhirnya dicoblos oleh anak buah saksi tersebut.

Pemantau pemilu Malaysia dari Migrant Care, Siti Badriah, mengatakan pemilih di Malaysia berjumlah 420.643 orang. Tapi separuh pemilih justru dilayani lewat pos. Ia menganggap cara ini rawan kecurangan. “Dari dulu kami memprotesnya,” kata Siti pekan lalu. Menurut data yang diperoleh Siti, panitia mengirimkan 246.626 surat suara melalui pos. Ada ratusan surat suara yang ditujukan ke satu alamat, lalu alamat yang dituju membagikannya kepada para pemilih.

Seorang saksi mengatakan ribuan surat suara dikirimkan ke kantor sejumlah partai politik cabang Kuala Lumpur. Jumlahnya bervariasi, antara 2.500 dan 3.000. Seorang pengurus partai pendukung Prabowo-Hatta mengatakan ribuan surat suara itu akhirnya ditusuk anak buah saksi tersebut. “Semua untuk nomor satu (Prabowo-Hatta),” ujarnya sambil terkekeh.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Johnny G Plate meminta kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menerima apa pun hasil Pilpres 2019, termasuk kemungkinan jagoan mereka kalah. BPN tak boleh menggiring persepsi Prabowo kalah karena dicurangi.

“Kalau ikut kompetisi (harus) siap menang, siap kalah. Menang dengan ksatria, kalah dengan terhormat,” kata Johnny