Pengalihan Subsidi BBM untuk Kesehatan

Pengalihan Subsidi BBM untuk Kesehatan

Jakarta – Meski harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan selama 3 tahun terakhir, hingga berdampak pada kenaikan harga BBM di Indonesia karena minyak mentah sebagai bahan baku utama BBM.

Menurut data BP _Statistical Review of World Energy_ (2018), rata-rata harga minyak dunia mencapai 44,67 USD per barel dan meningkat menjadi 54,19 USD pada 2017.

Sementara itu, realisasi harga minyak 2018 rata-rata bergerak pada level 70 USD per barel atau berada jauh di atas asumsi APBN yang hanya 48 USD per barel.

Pemerintah masih memberikan subsidi BBM, namun hanya untuk jenis minyak tanah dan solar. Sementara untuk BBM jenis pertalite, pertamax 92, pertamax 95, pertamina dex dan sejenisnya,penentuan harga diserahkan kepada mekanisme pasar atau mengikuti pergerakan harga pasaran minyak dunia.

Kebijakan ini bertujuan agar dana subsidi BBM lebih tepat sasaran.

Secara rinci, subsidi BBM dan LPG telah dibayarkan sebesar Rp 75,3 triliun per Oktober. Pembayaran ini sudah termasuk tunggakan tahun lalu dan pembayaran pembengkakan subsidi BBM dari Rp 500 per liter menjadi 2.000 per liter.

“Kalau kami lihat subsidi BBM dan LPG itu, yang sekarang sudah mencapai Rp 75,3 triliun atau 104 persen dari yang dianggarkan.

Selain karena adanya pembayaran dari kewajiban tahun lalu juga sebenarnya karena kami sudah bayarkan subsidi yang dari Rp 500 per liter menjadi Rp 2.000 per liter,” jelas Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Harga BBM di Indonesia termurah ke-3 di ASEAN. Secara rata-rata harga BBM Indonesia tercatat sebesar USD 0,67 atau setara Rp 9.639 per liter (Rp 14.386 per USD).

Posisi teratas untuk harga BBM termurah ditempati oleh Malaysia dengan nilai USD 0,55 atau setara Rp 7.913 per liter. Di tempat kedua ditempati oleh Myanmar dengan harga USD 0,62 atau Rp 8.920 per liter.

Di bawah Indonesia, atau posisi keempat, ditempati Vietnam dengan harga USD 0,94 atau Rp 13.525 per liter. Dilanjutkan dengan Filipina USD 1,05 atau Rp 15.105 per liter.

Posisi keenam ditempati Kamboja dengan harga USD 1,06 atau Rp 15.254 per liter. Posisi ketujuh ialah Thailand dengan harga USD 1,11 atau Rp 15.967 per liter.

Posisi kedelapan ialah Brunei dengan harga USD 1,16 atau Rp 16.686 per liter. Posisi kesembilan ialah Laos dengan harga USD 1,25 atau Rp 17.981 per liter.

Terakhir atau negara ASEAN dengan harga BBM termahal ialah Singapura dengan nilai USD 1,61 atau setara Rp 23.160 per liter.

Pemerintah mengalihkan anggaran subsidi BBM hanya kepada program-program dan anggaran belanja negara yang bersifat produktif, seperti anggaran untuk membangun infrastruktur yang mencapai Rp 410 triliun, anggaran untuk kesehatan mencapai Rp 111 triliun atau naik hampir 2 kali lipat dan anggaran untuk membangun desa mencapai Rp 60 triliun.