NU dan Muhammadiyah Berperan Menjaga Masyarakat Sipil Indonesia yang Toleran

Peran Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah dalam memberantas ekstrimisme dan radikalisme menggaung di Eropa, dalam seminar yang bertajuk The Role of Civil Society in Facing Radicalism in Indonesian Society.
69 Kali Di Baca

Universitas Oslo mengundang dua organisasi Muslim terbesar di tanah air, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, untuk memberikan paparan terkait pendekatan lunak deradikalisasi.

Pergulatan Indonesia melawan arus intoleransi dinilai patut dijadikan teladan dalam memberantas akar radikalisme dan terorisme.

Ini mengapa peran NU dan Muhamadiyah dalam memberantas ekstrimisme dan radikalisme menggaung di Eropa.

Dalam seminar yang bertajuk The Role of Civil Society in Facing Radicalism in Indonesian Society, Dubes RI untuk Norwegia merangkap Islandia, Todung Mulya Lubis, menyampaikan NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi yang memiliki pengaruh besar di Indonesia.

“Saat ini jumlah anggota NU sekitar 60 juta dan Muhammadiyah sekitar 40 juta. Kalau ditotal berarti jumlahnya sekitar 38,46 persen dari total penduduk Indonesia. Dengan prosentase yang cukup besar tersebut, peran kedua organisasi ini memiliki arti penting sebagai kekuatan untuk menjaga keutuhan NKRI,” kata Todung.

Todung menambahkan bahwa kekuatan sebuah negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan masyarakat sipilnya. Jika masyarakat sipilnya kuat maka otomatis akan kuat pula negaranya.

Untuk itu NU dan Muhammadiyah punya andil besar untuk menjaga masyarakat sipil Indonesia yang toleran dan berkemajuan.

Wakil dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia menjelaskan upaya yang dilakukan dalam memberantas radikalisme di Indonesia.

NU dan Muhammadiyah berperan strategis mencegah radikalisme melalui penerapan Islam Nusantara meskipun NU dan Muhammadiyah menggunakan pendekatan yang berbeda.

KH Marsudi menjelaskan tentang konsep Islam Nusantara yang merefleksikan bentuk Islam moderat. Konsep Islam Nusantara yang mempromosikan nilai-nilai dasar Islam seperti ‘jalan tengah’ (tawasuth), berkeseimbangan (tawazun), dan toleransi (tasamuh) merupakan norma yang ditumbuhkembangkan untuk memelihara perdamaian dan persatuan bangsa Indonesia di tengah kemajemukan yang sangat kompleks.

Di sisi lain, Mu’ti menjelaskan bahwa meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda, Muhammadiyah juga mengenalkan konsep Muslim yang moderat, damai dan makmur. Menurutnya setiap Muslim memiliki tangung jawab terhadap pribadinya, masyarakatnya dan negaranya.

“Sebagai individu, setiap muslim bebas menjalankan amal ibadah sesuai ajaran yang diyakininya. Namun, harus diingat bahwa kebebasannya itu juga dibatasi dengan tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Dia harus tunduk pada norma sosial masyarakat serta hukum positif yang diatur oleh negara,” jelas Mu’ti.

Karena itu warga NU dan Muhammdiyah diharapkan semakin meningkat perannya dalam memberantas radikalisme baik dilingkungan keluarga maupun masyarakat.