Mewaspadai Gerakan Radikalisme Berpakaian Ala Milenial

Mewaspadai Gerakan Radikalisme Berpakaian Ala Milenial
43 Kali Di Baca

Hari-hari ini kelompok radikalisme terus tersudut dan tak bisa berkutik melakukan kegiatan mereka. Meski mereka tidak terlihat dan bahkan jauh dari pemberitaan, tetapi, justru kondisi ini yang dimanfaatkan betul oleh kelompok radikal.

Kondisi inilah yang perlu diwaspadai. Menurut pendiri NII Crisis Center yang juga merupakan mantan Komandan NII, Ken Setiawan, mengingatkan agar publik tidak terlena dengan bahaya radikalisme bersembunyi di balik berbagai ormas.

Ken menilai, jika ada ormas sedang mengkritisi pemerintah, maka para radikalis itu akan turut menjadi bagian agar suasana menjadi keruh supaya masyarakat tidak percaya dengan pemerintah yang dinilai gagal dalam menjaga kondusifitas keamanan.

“Jadi kini walaupun berbeda nama organisasinya tapi ketika punya tujuan yang sama dalam mengkritisi dan menghujat pemerintah maka mereka akan turun bersatu dalam aksi,” ungkapnya di Solo, Minggu (13/1/2019).

Saat ini, lanjut KEn mengatakan bahwa kelompo radikalisme itu tidak banyak mengusung tema penegakan negara islam atau khilafah Islam, namun lebih kepada organisasi dan pemberdayaan sentra ekonomi. Mereka merasa lebih aman karena tidak berbenturan dengan aparat keamanan.

“Kalau frontal dengan isu penegakan negara Islam atau khilafah Islam mereka mudah terdeteksi, apalagi kondisi politik hari ini sangat tidak mendukung karena tidak ada capres yang menyuarakan konsep negara islam atau khilafah islam,” kata dia.

Setidaknya ada beberapa ormas-ormas lama yang menurut Ken perlu diwaspadai. Di antara adalah Negara Kurnia Allah (NKA), Millah Ibrahim, Lembaga Kerasulan, Isa Bugis, Islam Shahadat, Alquran Suci, Showah Al Islamiyah dan Kesatuan Al Haq.

Lebih lanjut kata dia, kelompok kelompok tersebut kini lebih aktif di organisasi, mereka membuat kegiatan positif dimasyarakat, seperti kerja bakti, donor darah, pelatihan dna bimber, mereka masuk sekolah dan masuk kampus, bahkan mereka kini menyusup lewat majlis taklim hingga takmir masjid.

Selain itu, mereka juga masuk di kalangan milenial dan berpakaian seperti kaum milenial.

“Mereka menggunakan konsep taqiyah atau siasat yang terpenting bagi mereka adalah misi tercapai. Dengan merubah pola, kini gerakan kelompok radikal lebih susah dideteksi, karena dengan organisasi yang legal kita susah mencari celah peyimpanganya,” ujarnya.