Kubu Prabowo Pecah Suara Dilema Menghadapi Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet


Lamanberita – Sejak kasus kebohongan Ratna Sarumpaet di proses oleh aparat kepolisian, kubu Prabowo terus gencar melakukan strategi untuk melawan balik. Namun sayangnya publik sudah terlanjur kena tipu alias dibohongi oleh koalisi hoaks ini.

Bagaiman tidak, semula publik merasa terenyuh atas penganiayaan yang dialami aktivis perempuan Ratna Sarumpaet ini. Tapi pasca pengakuan RS semuanya kini sia-sia, publik pun kecewa karena telah dibohongi oleh kelompok oposisi.

Sekarang Ratna pun sudah menjadi tersangka atas drama kepalsuannya itu. Prabowo pun meminta maaf atas pernyataannya yang telah membuat gaduh masyarakat.

Polisi terus bekerja secara profesional membuktikan skandal hoaks yang bertujuan menyerang pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Hari ini Polisi bahkan telah memeriksa Amien Rais, meski sempat mangkir pada pemanggilan yang pertama. Namun, sayangnya tokoh reformasi itu sepertinya takut menghadapi pemanggilan pihak kepolisiian sebagai saksi kasus hoaks RS.

Parahnya untuk menemani dirinya ke Polda Metro Jaya, Amien harus mengerahkan massa Alumni Persaudaraan 212. Entah ancaman atau memang ingin menekan pemeriksaan yang tengah dijalankan Polisi.

Selain itu, dalam menghadapi kasus ini, kubu Prabowo sudah mulai pecah kongsi, kata sepakat untuk bersama-sama menghadapi pun mulai goyang bak diterjang gempa dan tsunami.

Sementara, Ketua Progres 98, Faizal Assegaf, membongkar kabar terbaru tentang perkembangan kasus Ratna Sarumpaet melalui laman twitter @faizalassegaf.

Dia menyebut bahwa Partai Gerindra saat ini sudah melaporkan Ratna Sarumpaet.

Koordinator Jubir Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Dahnil Azhar Simanjuntak, akan melaporkan Ratna ke kepolisian. Sebab mereka merasa dirugikan. Ia pun menegaskan pihaknya menyerahkan proses hukum Ratna sepenuhnya kepada aparat.

“Tentu. Kita merasa dirugikan tindakan Bu Ratna. Sebab itu nanti tim hukum akan memutuskan, seperti disampaikan cawapres kami yaitu Bang Sandi, akan melaporkan Bu Ratna ke pihak kepolisian dan mempersilakan pihak kepolisian untuk memproses Bu Ratna secara hukum,” kata Dahnil.

Merasa dirugikan, Partai Gerinda akhirnya resmi melaporkan aktivis Ratna Sarumpaet ke  Polda Metro Jaya, Sabtu 6 Oktober 2018. Laporan itu bernomor LP/5381/X/2018/PMJ/Dit. Reskrimsus.

Ibu dari aktris Atiqah Hasiholan itu diduga melanggar Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

“Karena apa yang dilakukan Ratna Sarumpaet kemarin, juga merugikan nama baik Gerindra, tak terkecuali kita sebagai masyarakat,” ujar Sekretaris Lembaga Advokasi Hukum Gerindra DKI, Mohamad Taufiqurrahman, dalam keterangan tertulis, Minggu (7/10/2018).

sebelumnya, Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membatalkan rencana melaporkan Ratna Sarumpaet kepada pihak kepolisian soal kabar bohong (hoaks) kasus penganiayaan tersebut.

Informasi pembatalan pegaduan dari kubu pasangan koalisi Indonesia Makmur ini beredar di grup WhatsApp.

Alasan pembatalan ini disebutkan, karena tidak ingin menambah beban bagi Ratna Sarumpaet.

“Tidak jadi kita laporkan karena sudah banyak yang melaporkan dan kita tidak ingin menambah tekanan terutama kejiwaan kepada Ibu Ratna.” demikian Sandiaga Uno.

Sandi dan Gerindra benar-benar tidak kompak menghadapi kasus RS. Komunikasi Sandi dan Gerindra tidak terjalin dengan baik dan cenderung Sandi berada di bawah kekuasaan Gerindra dengan balik sepakat dengan sikap Gerindra yang akan melaporkan RS.

Hal ini menunjukan Sandi tidak memiliki kekuatan atau posisi tawar di internal Gerindra. Itu sama artinya, Sandi hanyalah Cawapres plin plan mencari jalan aman.

Melihat permainan hoaks di oposisi Adil Makur, tambah lagi orang yang membuat kita tambah bingung lagi. Pasalnya, kini Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW) mengaku heran Ratna Sarumpaet sempat masuk Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Seharusnya HNW tidak mempertanyakan RS mengapa bisa masuk ke Timses Prabowo. Terkesan sikap HNW berupaya membuang RS karena merugikan nama baik Prabowo setelah selama ini secara loyal dan militan mendukung Prabowo Subianto.