Ketika Keledai Nasrudin Membaca Hoax Di Media Sosial


330 Kali Di Baca

Alkisah, Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

“Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”

Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?”

Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?”

Sindiran Nasruddin kepada Timur Lenk seperti dikisahkan diatas menjadi kekinian ketika masyarakat masa kini dipusingkan oleh banyaknya berita hoax dan postingan-postingan yang menyesatkan yang membutuhkan pendalaman lebih lanjut untuk mengetahui kebenarannya.

Banyak yang membaca namun tidak mengerti isi postingan hoax namun kemudian secara serta merta menyetujui postingan hoax tersebut lalu kemudian membagikannya kepada yang lainnya.

Kalau Nasrudin hidup jaman sekarang tentu cuma satu yang akan dikatakannya “Demikianlah orang tersebut tidak mau disebut setolol keledai sendirian sehingga dibagikannya kepada orang lain”.