Hobi Baru Prabowo, Pakai Data Keliru


653 Kali Di Baca

Narkoba adalah musuh bersama. Untuk menghentikan penggunaan narkoba, Badan Narkotika Nasional dan pemerintah menyerukan pada masyarakat untuk mengampanyekan stop narkoba. Kampanye stop narkoba harus dilakukan sepanjang masa selama narkoba itu belum berhasil dihentikan.
Kasus Andi Arief yang dinyatakan sebagai pengguna narkoba mencuat di tengah-tengah serunya kampanye Pilpres 2019. Para pendukung dari kedua belah kubu capres, secara bersamaan menggunakan kasus Andi Arief sebagai bahan gorengan.
Pendukung Kubu #01 menggoreng kasus Andi Arief untuk menjatuhkan kubu #02 yang kedapatan memiliki elit politik yang akrab dengan narkoba. Sementara Pendukung Kubu #02 menggoreng kasus Andi Arief untuk menyerang kubu petahana dengan tuduhan pemerintahnya gagal menghentikan penyebaran narkoba hingga mengakibatkan berjatuhan banyak korban.
Yang pasti, sejak kasus tertangkapnya Andi Arief, isu narkoba ini menjadi bahan kampanye bagi kubu Paslon #02. Pada pidatonya di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Prabowo mengatakan, “BNN sendiri mengatakan bahwa sampai 2015, pengguna narkoba itu 5,9 juta. Tapi enggak ada data dari 2016, 2017 dan 2018. Tapi kalau lihat kenaikan data penambahan sama, kemungkinan 8 juta. Delapan juta anak-anak kita kena narkoba. Berarti bayangkan lebih besar dari penduduk Singapura. Kalau diteruskan 10 tahun lagi, bagaimana mau? 20 juta anak-anak kita candu narkoba.”
Prabowo lantas mengatakan bahwa saat ini ada 72 kartel narkoba masuk ke dalam negeri. Prabowo menegaskan jumlah tersebut berdasarkan data yang dia terima dari BNN.
“Dari BNN sendiri, kepolisian, mengatakan ada 72 kartel internasional SUDAH masuk Indonesia. Saya pakai semua data resmi, saya tidak ngarang, saya tidak berani bikin hoaks-hoaks,” tandas Prabowo.
Pada acara “Apa kabar Indonesia”, Kombes Sulistyo Pudjo, Kepala Humas BNN, menyanggah pernyataan Prabowo . “Tidak betul. Soal 72 kartel, saya dari BNN tidak pernah memiliki data itu. Sudah baca-baca, nggak pernah dengar. Mungkin Prabowo memiliki hasil penelitian lain dari yang dia baca.”
Dilansir oleh Tribunnews pada 3 Agustus 2016, pada kasus penyelundupan sabu seberat 15 kilogram yang diamankan di Apartemen Mediterania Gajah Mada, Jakarta Barat, Budi Waseso mengatakan pelaku yang berinisial L (42) alias Acai dan merupakan warga negara Taiwan tersebut adalah bagian dari 72 jaringan internasional narkotika yang mengincar Indonesia sebagai tempat pemasaran.
Di sini jelas bahwa para gembong mafia narkoba ini adalah bagian dari 72 jaringan internasional narkotika yang mengincar Indonesia. Seyogianya, masalah narkoba ini harus menjadi masalah semua pihak dan seluruh bangsa Indonesia. Prabowo tak perlu mengangkat isu narkoba ini pada pidato kebangsaannya dimana kalimat “jika saya menjadi presiden…” selalu diucapkannya secara berulang-ulang. Karena hal inilah, kemudian dugaan bahwa Prabowo telah mempolitisasi isu narkoba berkembang di masyarakat dan dunia maya.
Yandri Susanto, Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi, pada acara yang ditayangkan oleh Tv One, terlihat sangat tergopoh-gopoh membela dan luruskan apa yang sudah Prabowo ucapkan.
“Saya kita apa yang disampaikan Pak Prabowo itu, pesan kepada kita bahwa memang Indonesia sekarang dalam keadaan darurat Narkoba, Persoalan data sekali lagi bisa diperdebatkan. Tapi hari ini Indonesia menjadi salah satu pasar internasional untuk memasarkan narkoba, itu sudah banyak buktinya.”
Tetap saja, angka yang disampaikan Prabowo salah. BNN menyebutkan bahwa angka itu tidak sampai 5 atau 8 juta, tapi 3,5 juta. Tak hanya untuk narkoba, barang apapun yang diproduksi oleh negara manapun, Indonesia dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, akan selalu menjadi sasaran pemasaran.